Halaman

Jumat, 14 Januari 2011

Baralek, Pesta Pernikahan dalam Adat Minang

Setelah sukses menyelenggarakan Upacara Basanding (Pesta Adat Banjar), kami sekeluarga mengadakan upacara pernikahan dalam adat Minang yang disebut Baralek.

Baralek, secara harfiah artinya “pesta”, seperti Basanding (duduk berdua), Baralek diadakan sebagai tanda syukur karena salah seorang anak dalam keluarga telah menikah.

Biasanya, Baralek diadakan secara mewah di dalam gedung, dan disebut Baralek Gadang (Baralek=pesta, Gadang=besar). Namun, karena kami mengadakan baralek secara sederhana, maka kami menyebutnya Baralek saja, tidak pakai “gadang” (^_^)

Baralek yang kami adakan, diadakan dalam sub-adat Agam.

Baralek

Baralek 2


Pertama, upacara dimulai dengan acara Mendoa (berdoa bersama)

Mendoa Mendoa 2

Setelah itu, Baralek-nya (^_^)

Bersama Tetap Bersama
Marapulai Anak Daro

Anak Daro
Anak Daro (Mempelai Perempuan)

Marapulai
Marapulai (Mempelai Laki-laki)

Keluarga Marapulai
Keluarga Marapulai

Keluarga Anak Daro
Keluarga Anak Daro

Seluruh Keluarga
Seluruh Keluarga

Koleksi Baru Busana Pengantin Minang



Busana Pengantin Minang dalam Nuansa Kombinasi Warna Hitam dan Emas, memberikan kesan serasi dan elegan, cocok untuk Resepsi di Malam Hari.

Tari Pasambahan Minang





Kedatangan Pengantin Minang, biasanya datang dengan payung kebesaran, disambut secara adat, baik dengan Pencak Silat maupun dengan Tari Pasambahan. Tari Pasambahan tersebut dimaksudkan sebagai ucapan selamat datang dan ungkapan rasa hormat kepada Tamu Agung yang baru saja sampai. Setelah tari Pasambahan, dilanjutkan dengan suguhan Daun Sirih di Carano kepada Pengantin Pria, sebagai wakil dari rombongan. Daun Sirih lengkap di carano tersebut juga dapat disuguhkan kepada Kedua Orang Tua Pengantin yang mengiringi di barisan belakang.

Koleksi Busana Pengantin Adat Minang - Kreasi Baru







Warna ungu emas adalah salah satu koleksi Busana Pengantin Minang Kreasi terbaru dari Sanggar Siti Nurbaya yang ditampilkan pada Wedding Expo Royal Plaza Surabaya November 2008.

Kamis, 23 Desember 2010

Suntiang Gadang

Dalam adat Minangkabau, pernikahan merupakan salah satu masa peralihan yang sangat berarti karena merupakan permulaan masa seseorang melepaskan diri dari kelompok keluarganya untuk membentuk kelompok kecil milik mereka sendiri. Karena itu peristiwa pernikahan sangatlah penting bagi siklus kehidupan seseorang. Hari tersebut merupakan hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh kedua calon mempelai dan keluarga dari kedua belah pihak. Ditandai dengan prosesi upacara adat dan keagamaan yang sesuai dengan pepatah minang “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”. Seluruh rangkaian upacara pernikahan adat, perlengkapan, tata rias membutuhkan persiapan yang lama dan sangat terperinci.

[Image: mm_xx_yy_05.jpg]
Suntiang Gadang

Di minangkabau pada umumnya pengantin perempuannya menggunakan suntiang. Suntiang adalah hiasan kepala pengantin perempuan di Minangkabau atau Sumatra Barat. Hiasan yang besar warna keemasan atau keperakan yang khas itu, membuat pesta pernikahan budaya Minangkabau berbeda dari budaya lain di Indonesia. Perempuan minangkabau mesti bangga dengan budaya minangkabau, terutama soal pakaian pengantin. secara turun temurun, busana pengantin Minangkabau sangat khas, terutama untuk perempuannya, yaitu selain baju adat-nya baju kurung panjang dan sarung balapak, tak ketinggalan suntiang.

Suntiang adalah salah satu bentuk hiasan kepala anak daro. Suntiang yang dipakai secara umum sekarang biasa disebut suntiang gadang. Nama ini untuk membedakan dengan suntiang ketek yang biasa dipakai oleh pendamping pengantin yang disebut pasumandan.

Sedangkan untuk hiasan kepala sebenarnya beragam bentuknya. Saat ini, hiasan kepala “Suntiang Kambang” asal Padang Pariaman lah yang di lazim digunakan di Sumatera Barat. Padahal ada banyak bentuk hiasan kepala, ada yang berupa sunting Pisang Saparak (Asal Solok Salayo), Sunting Pinang Bararak(Dari Koto nan Godang Payakumbuh), Sunting Mangkuto (dari Sungayang), Sunting Kipeh (Kurai Limo Jorong), Suntiang Sariantan (Padang Panjang), Suntiang Matua Palambaian, dll.

Ada empat jenis hiasan yang disusun membentuk sunting pada hiasan kepala pengantin minang ini. Lapisan yang paling bawah adalah deretan bungo sarunai. 3-5 lapis bungo sarunai ini membentuk dasar bagi sunting minang. Kemudian diletakkan deretan bunga gadang sebanyak 3 – 5 lapis. Hiasan yang paling atas adalah kambang goyang. Sedangkan hiasan sunting yang jatuh di pipi kanan dan pipi kiri pengantin minang ini disebut kote-kote.

Suntiang juga ada beberapa bentuk. Selain yang standar berbentuk setengah lingkaran yang umum dipakai, juga ada suntiang khas masing-masing daerah di Sumatera Barat. Di antaranya suntiang Sungayang, Tanah Datar yang memiliki mahkota, suntiang kurai (Bukittinggi), suntiang Pariaman, dan Solok Selatan, dan suntiang Solok yang dirangkai tanpa kawat.

[Image: mm_xx_yy_07.jpg]
suntiang gadang

Suntiang, sebagai kekhasan pengantin Minangkabau Pesisir yang berasal dari daerah Padang/ Pariaman. Kembang-kembang suntiang ini umumnya bertingkat dengan ganjil dimulai dari tujuh tingkat hingga sebelas tingkat. Ada juga suntiang bertingkat mulai dari tiga hingga lima yang biasanya digunakan untuk pendamping pengantin atau dikenal juga dengan sebutan Pasumandan. Namun karena alasan kepraktisan dan menyesuaikan dengan bentuk wajah, kini tingkatan pada Suntiang dipertahankan ganjil namun jumlah tingkatannya disesuaikan dengan kemampuan dan kemauan si pengantin.

Keindahan Suntiang diawali dengan susunan kembang goyang yang digunakan oleh tiap pengantin wanita. Pada lapisan bawah Suntiang digunakan kembang goyang yang dinamakan Bungo Sarunai yang terdiri dari tiga hingga lima deretan. Lapisan kedua digunakan kembang goyang yang dinamakan Bungo Gadang yang juga terdiri dari tiga hingga lima deretan. Terletak paling atas adalah Kambang Goyang dengan hiasan-hiasan lainnya yang disebut Kote-kote. Di bagian belakang sanggul terdapat Tatak Kondai dan Pisang Saparak yang menutupi sanggul bagian belakang. Sedangkan di dahi pengantin wanita terdapat Laca, dan Ralia di bagian telinga.

Dahulu, berat sunting mencapai beberapa kilogram sebab terbuat dari alumunium dan besi-besi, ada yang terbuat dari emas, dan harus ditancapkan satu persatu pada rambut mempelai wanita. Memakai suntiang kerapkali juga salah satu yang ditakutkan calon pengantin perempuan Minang. Suntiang yang beratnya bisa mencapai 3,5-5 kg (Jadi hampir sama dengan berat laptop model lama atau berat topi baja militer) dan mesti dikenakan di kepala selama pesta berlangsung umumnya sehari-semalam, membuat si calon pengantin perempuan yang disebut ‘anak daro’ was-was dan cemas akan tidak sanggup menjalankannya. Bayangkan kalau dipakai selama satu dua jam. wah, bisa berkeringat dan bikin anak daro meringis. Namun semakin modernnya fashion, suntingpun ikut terkena imbasnya, tapi tetap berkiblat pada budaya Minangkabau. Bahkan sekarang sunting tersedia yang tak berat dan nyaris seperti menggunakan bando biasa saja, sehingga anak daro lebih santai dan bergerak leluasa tanpa keluhan sakit kepala.

[Image: mm_xx_yy_041.jpg]
suntiang gadang

Suntiang sendiri dirangkai menggunakan kawat ukuran satu perempat yang dipasang pada kerangka seng aluminium seukuran kepala. Pada kawat itu dipasang sedikitnya lima jenis hiasan. Kelima hiasan itu dinamakan suntiang pilin, suntiang gadang, mansi-mansi, bungo, dan jurai-jurai. Besarnya sebuah suntiang diukur dengan jumlah mansi atau kawat. Suntiang paling besar ukurannya 25 mansi, kemudian 23 mansi, dan 21 mansi yang paling umum dipakai saat ini. Suntiang yang dibuat juga dibagi tiga jenis berdasarkan bahan. Yang lebih berat dan mahal yang masih dibuat saat ini terbuat dari mansi padang (sejenis seng aluminium kuningan). Kemudian mansi kantau atau biasa, dan yang sekarang mulai banyak dipakai, terutama untuk pelajar, suntiang dari plastik yang jauh lebih ringan. Tapi yang paling bagus sebaiknya nanti dibuat dari titanium, sayangnya masih mahal.

Suntiang tidak terlepas dari perangkatan pakaian limpapeh Rumah nan Gadang di Minangkabau. Suntiang ini dipakai oleh anak gadis yang berpakaian adat maupun oleh pengantin wanita. Mengenai jenis dan nama suntiang ini berbagai ragam.

Secara garis besar jenis suntiang ini adalah :

1. Suntiang bungo pudieng (suntiang berbunga puding)
2. Suntiang pisang saparak (suntiang pisang sekebun)
3. Suntiang pisang saikek (suntiang pisang sesisir)
4. Suntiang kambang loyang (suntiang pisang sesisir)

Dari segi ikat (dandanan) dengan segala variasinya suntiang ini dapat pula dibedakan, suntiang ikat pesisir, suntiang ikat Kurai, suntiang ikat Solok Selayo, suntiang ikat Banuhampu Sungai Puar, suntiang ikat Lima Puluh Kota, suntiang ikat Sijunjung Koto Tujuh, suntiang ikat Batipuh X Koto, suntiang ikat Sungayang, dan Lintau Buo.

Suntiang ikat bungo pudieng banyak dipakai didaerah Batipuh Tanah Datar. Suntiang pisang separak banyak dipakai didaerah Luhak Lima Puluh Kota, Solok, Sijunjung Koto Tujuh, dan Sungai pagu. Suntiang pisang sasikek banyak dipakai di daerah Pesisir. Suntiang kambang loyang banyak dipakai di daerah lain.




[Image: suntiang.jpg]

[Image: 100789C%20crown%20bright%20full.jpg]

Minggu, 19 Desember 2010

WISATA KULINER RANAH MINANG

Hawa dingin di kakai gunung merapi, akan terkalahkan dengan segelas AIA kawa dan beberapa potong Bika. Pondok Aia Kawa dan bika ini perletak dijalan utama Bukittinggi -Payakumbuh tepatnya di daerah Koto Hilalang di kecamatan IV Angkat Candung, kabupaten Agam. Kecamatan yang terletak di dataran tinggi Agam, yang kira2 900-1200 m diatas permukaan laut. Hawa sejuk menusuk tulang...membuat perut jadi bernyanyi... bersahutan ....


Aia kawa yang dituang kedalam gelas yang terbuat dari batok kelapa yang unik


Aia kawa terbuat dari air seduhan air kopi yang sudah diasapkan terlebih dahulu ditas tungku sampi kering kemudian digiling halus seperti serbuk teh . Lalu serbuk inilah yang diseduh... untuk dijadiakn minuman AIA KAWA. Teman minum setia aia kawa di dangau (pondok) ini adalah Bika. Terbuat dari santan, tepung beras, gula dan kelapa muda yang dipanggang diatas bara api ..... mmmmm bau harumya sudah tercium nih .......

Daun kopi dikeringkan diatas tungku, setelah kering lalu ditumbuk halus seperti teh dan siap diseduh menjadi minuman yang disebut AIA KAWA



Bika yang sudah matang ..... mmm... ..

Ada satu varian Bika yang tak kalah TOPnya di daerah kotobaru padang panjang . Bika si mariana, terbuat dari santan, tepung beras, gula merah dan di olah dengan cara yang sangat unik, mungkin cara pengolahan ini lah yang membuat Bika siMariana berbeda dengan yang lainnya. Adonan Bika yang siap dimasak di panggang di atas tungku api dan di bungkus dengan daun jati, lantas diatasnya ditutup dan dibakar lagi dengan bara api.(bbg sumber)

dilanjuttt ya ...
Berkeliling berburu cemilan. Dulu.... lamang ini ada tiga macam , lamang putiah, lamang jaguang dan lamang ubi yang dicampur dengan gula merah sehingga warnya kecoklatan. Rasanya ... silakan coba sendiri ya

Rasa dan aromanya masih seperti yang dulu .....vla susnya baru dimasukin kalo ada pembelinya , kita langsung bisa liat gimana cara si Engkoh ...masukin vla ke sus, barangkali ini keunikannya.

Aneka oleh2 dari ranah minang bisa didapat di toko MEKAR yang berlokasi di daerah kampung Cina ini, ada kripik balado, karupuak cancang, sagon, kue bareh raso limau puruik, kue jahe, kacang tujin, kipang kacang citra , jaguang goreng, dan banyak lainnya , tapi jangan lupa ya Kue sus.............kampuang Cino ......

Yang ini ngga boleh terlewatkan " Pisang Kapik". Pisang yang dipanggang, digepengkan, dimakan dengan uli karambia bagulo... (parutan kelapa yang dicampur gula merah )... enyak ..enyak ...
Abis... keliling-keliling haus kan ??? ...apalagi setelah menaiki JANJANG AMPEK PULUAH
( tangga yang berjumlah 40 anak tangga yang menghubungkan antara pasar bawah dan pasar atas) . Disudut anak tangga paling terbawah ada penjual AIA TAWA .. mau rasa sama yang segar atau yang dicampur santan nan kamek ..... ondeh mandehhhhh ... glek...glek...glek...


Nah kalo yang ini gulo2 tareh , permen kampung dari gula merah yang dicetak bulat ato memanjang seukuran jari telunjuk lalu dibaluri dengan tepung terigu. Rasanya masih original...manis ...gula enau ....


KULINER DI MINANGKABAU

-----------------------------------------------------------------------------

GULAI

Gulai adalah sejenis makanan yang dimasak dengan menggunakan bahan baku dari daging kambing, sapi, ayam atau jenis daging lain yang memiliki ciri khas berwarna kuning karena pengaruh dari filtrat kunyit. Makanan ini adalah bentuk lain dari kari. Makanan ini berminyak dan bercirikan menggunakan santan kelapa.

------------------------------------------------------------------------------

RENDANG

Rendang daging adalah masakan tradisional bersantan dengan daging sapi sebagai bahan utamanya. Masakan khas dari Sumatera Barat, Indonesia ini sangat digemari di semua kalangan masyarakat baik itu di Indonesia sendiri ataupun di luar negeri.

Selain daging sapi, rendang juga menggunakan kelapa (karambia), dan campuran dari berbagai bumbu khas Indonesia di antaranya Cabai (lado), lengkuas, serai, bawang dan aneka bumbu lainnya sebagai penyedap.

Rendang memiliki posisi terhormat dalam budaya masyarakat Minangkabau. Rendang memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Minang Sumatra Barat yaitu musyawarah, yang berangkat dari 4 bahan pokok, yaitu:

  1. Dagiang (Daging Sapi), merupakan lambang dari Niniak Mamak (para pemimpin suku adat) .
  2. Karambia (Kelapa), merupakan lambang Cadiak Pandai (kaum intelektual).
  3. Lado (Sabai), merupakan lambang Alim Ulama yang pedas, tegas untuk mengajarkan syarak (agama).
  4. Pemasak (Bumbu), merupakan lambang dari keseluruhan masyarakat Minang.

-----------------------------------------------------------------------------

KARUPUAK SANJAI

Karupuak Sanjai adalah sejenis peganan kerupuk dari singkong yang diparut tipis lalu digoreng dan diberi garam sebagai penyedapnya. Kerupuk ini amat populer sebagai makanan oleh-oleh khas kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Kerupuk sanjai yang diberi bumbu balado dinamakan karupuak balado.

-----------------------------------------------------------------------------

SATE PADANG

Sate Padang adalah sebutan untuk tiga jenis varian sate di Sumatera Barat, yaitu Sate Padang, Sate Padang Panjang dan Sate Pariaman.

Sate Padang memakai bahan daging sapi dan lidah sapi dengan bumbu kuah kacang kental (mirip bubur) ditambah cabai yang banyak sehingga rasanya pedas.

Sate Padang Panjang dibedakan dengan kuah satenya yang berwarna kuning sedangkan sate Pariaman kuahnya berwarna merah. Rasa kedua jenis sate ini juga berbeda. Sedangkan sate Padang mempunyai bermacam rasa perpaduan kedua jenis varian sate diatas.

Sate Mak Syukur di kota Padang Panjang sangat terkenal di Minangkabau sedangkan sate Ajo Laweh merupakan sate Pariaman yang terkenal.

Daging segar dimasukkan dalan drum besar berisi air dan direbus dua kali agar lunak menggunakan drum dan air yang berbeda. Daging diiris-iris dan dilumuri dengan bumbu dan rempah-rempah. Sementara air rebusan digunakan sebagai kuah kaldu, bahan membuat kuah sate. Lalu kuah kaldu ini dicampur dengan 19 macam bumbu rempah-rempah yang telah dihaluskan (bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan serai) dicampur dengan berbagai macam cabai. Seluruh bumbu kemudian dijadikan satu dan dimasak selama 15 menit.

Sate sendiri hanya dibakar saat dipesan, menggunakan arang dari tempurung kelapa.

------------------------------------------------------------------------------

LAMANG TAPAI

Lamang adalah beras ketan yang dimasak dengan santan dan dimasak dalam bambu muda. Bahan utamanya adalah beras ketam putih, santan kelapa, daun pandan sedikit garam. Beras ketan di cuci bersihkan dulu dan dimasukkan kedalam ruas bambu muda yang terlebih dahulu di lapisi dalamnya degan daun pisang kemudian baru dituankan santan ke berasnya dan dibakar dengan bara api, dijaga jangan samapai ruas bambu terbakar. Tapai adalah tape beras kertan hitam yang di buat dengan mempermentasikan beras ketan dengan ragi. Lemang dan tapai merupakan padanan yang cocok buat berbuka puasa.

-----------------------------------------------------------------------------

KATUPEK KATAN

Katupek katan yang khas Kapau, yaitu ketupat ketan berukuran kecil yang dimasak dalam santan berbumbu. Ketupat ketan adalah versi rebus dari lemang. Santannya menjadi sampai kental sekali dan merasuk ke dalam ketupat. Ketupat kentan ini bisa dimakan sebagai dessert, tetapi juga bisa dimakan dengan lauk pedas, misalnya gulai itik cabe hijau atau rendang.

Kuliner Bukittinggi Sumatra Barat yang “wajib” di nikmati


seporsi ampiang dadiah

seporsi ampiang dadiah

Satu lagi kudapan yang nikmat dari bukit tinggi, “ampiang dadiah”namanya , terletak di dalam pasar atas dan penjualnya pun konon sudah berjualan sejak tahun 50 an jadi resep yang digunakan sudah lama sekali.. Beberapa orang mengatakan , bahwa makanan ini jarang ditemui di tempat lain selain bukit tinggi, kalaupun ada rasanya juga berbeda.

Nikmat dan mantaap, campuran makanan ini terdiri dari “dadiah” fermentasi susu kerbau yang ditempatkan di buluh bambu dicampur kuah gula merah cair serta ampiang (ketan putih) dan serutan kelapa disajikan dingin bersama bersama serutan es..
Rasanya sangat khas .. “Campuran” manis, asam dan gurih sangat cocok dinikmati siang hari maupun malam , harga tergolong murah cukup dengan 13 ribu rupiah anda mendapat semangkok ampiang dadiah yang sedap

Eeeehm , mau coba ? Silahkan sambangi pasar atas bukittinggi sumbar…….

media fermentasi dadiah

media fermentasi dadiah