
Senin, 13 Desember 2010
Menengok 'Tempat Lahir' Orang Minangkabau

Jumat, 10 Desember 2010
Photo-photo Alam Surambi Sungai Pagu dimasa lalu
Tim ini dipimpin oleh HL. van Hasselt, seorang Peneliti Belanda yang digagas oleh dan disupervisori oleh Pieter Johannes Veth, seorang sarjana Belanda terkemuka tentang Hindia Belanda, yang sampai akhir hayatnya tidak pernah menginjakkan kakinya di bumi Indonesia.
Disamping buku diatas, Van Hasselt juga menulis satu artikel, “De pidato bij de feesten der Manangkabo-Maleiers” dalam Bijdragen tot de Taal- Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, ter gelegenheid van het zesde internationale congres der orientalisten te Leiden, vol: taal en letterkunde (‘s Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1883, hal. 228-36) tentang pidato pasambahan di Minangkabau (darek). Van Hasselt juga menulis sendiri satu buku, yaitu: De talen en letterkunde van Midden-Sumatra. Leiden: E.J. Brill, 1881) yang antara lain memuat berbagai genre sastra tradisional Minangkabau yang dicatatnya selama Ekspedisi Central Sumatra, yaitu Kaba Murai Batu; puisi Minang yang biasa didendangkan (liedtjes) yang meliputi pantun, ibarat, talibun dan pidato; teka-teki; Cerita Tuanku nan Caredek: fragmen sejarah Pariaman; peribahasa atau pameo (spreekworden); fragmen-fragmen cerita tentang negeri Muko-muko dan XII Koto (aksara Jawi); satu prosesi cara mengambil madu lebah sialang; dan satu surat kepercayaan (geloofbrief) Minangkabau beraksara Jawi.
Disamping itu, Tim tersebut juga banyak mempekerjakan pribumi dan kuda-kuda dari tanah batak yang sangat terkenal dimasanya sebagai pengangkut perbekalan menaiki dan menurunin gunung dan bukit di dataran tinggi Sumatra bagian tengah,
Sejarah Islam di Minangkabau
a. Sebelum Masuknya Islam di Kerajaan Minangkabau
Puncak kejayaan Raja Minangkabau diketahui setelah abad 13 . Zaman ini disebut zaman Jawa-Hindu ketika mendaratnya suatu laskar Jawa yang dikirim raja Kertanegara dari Singosari dalam tahun Caka 1197 (1275 M). Ekspedisi ini berhasil sebab 11 tahun itu ditepi Batang Hari di pusat Sumatera atas perintah raja Jawa tersebut didirikan sebuah arca dari Amoghapaca dalam perkabaran yang berhubungan dengan itu disebut sebagai raja dari rakyat Sumatera. Mulawarmadewa yang dapat dianggap raja muda. Demikianpun Adityawarman (kira kira 1346 – 1375) yang paling terkenal dari raja-raja sumatera ini dibawah pengaruh kekuasaan Jawa, setidak tidaknya pada pemerintahan permulaan pemerintahnya dalam negara Kertagama “Menangkabawa” disebut sebagai daerah taklukkan dari kerajaan Majapahit. Salah satu bukti dari pengaruh Jawa Hindu pada zaman Adityawarman terdapat banyak peninggalan Hindu yang sekarang masih terdapat di Minangkabau. Tapi setelah zaman kejayaan itu tidak terdapat sedikitpun peninggalan sejarah raja Minangkabau. Apa sebabnya dan kapan berakhirnya kekuasaan raja Jawa Hindu itu meninggalkan Minangkabau tidak diketahui. Kalau pun masih adanya candi hindu di ranah minang, penulis pernah menanyakan hal ini kepada ulama yang merupakan salah satu keturunan ulama penyebar islam di minangkabau, bahwasanya candi hindu sebenarnya masih ada. Akan tetapi banyak candi yang di timbun dengan tanah, hal ini dilakukan Ulama saat itu agar masyarakat tidak kembali pada kepercayaan agama sebelum islam yaitu agama hindu dan menghindari penganut Hindu dari luar untuk menetap disekitar candi di Minangkabau (contoh Candi Borobudur).
B. Sesudah Masuknya Islam di Kerajaan Minangkabau
Setelah orang Belanda menetap di Sumatera dalam abad ke 17 terdengarlah kembali sesuatu terhadap kerajaan Minangkabau, berdasarkan keterangan Van Bezel sekitar tahun 1680 saat meninggalnya kaisar Alif raja dari Turki, akibatnya ada perselisisihan raja-raja Minangkabau, maka kerajaan Minangkabau terbagi tiga yakni: Sungai Tarab, Saruaso dan Pagaruyuang. Pada saat itu terjadi perpecahan dalam negeri dalam penetapan raja, hak untuk menduduki tahta tidak diakui oleh beberapa pembesar kerajaan (dagregister 1680 hal 123, 716, 721). Kemungkinan pembagian kerajaan pada waktu itu tidak terjadi.
Raja Aditiyawarman disebut-sebut sebagai raja pertama Pagaruyung yang beragama Hindu di Minangkabau, dalam catatan Kato. Aditiyawarman ini mempunyai pertalian darah dengan Dharmasraya. Sesaat setelah pecahnya perang saudara sesudah wafatnya Raja Aditiyawarman yang paling berkharisma dan besar pada masa itu, keluarga raja pindah ke Marapalam dan lambat laun memantapkan kedudukannya sebagai mitra dagang Malaka yang di mana di kerajaan yang besar dan menguntungkan. Anggota-anggota keluarga raja menetap di berbagai tempat di lembah-lembah Sinamar dan Sumpurkudus di tepi Sumpur, dan di tempat dulu yang disebut Pagaruyung, dekat Kumanis, dimana sungai Sinamar bisa dilayari perahu dagang ke Indragiri. Pada waktu tinggal disinilah keluarga raja berhubungan dengan pedagang muslim dan pikiran Islam, dan pada akhir abad keenam belas secara bertahap mereka menjadi Islam, dan pada suatu ketika fungsi kerajaan dibagikan pada tiga anggota keluarga, karena angka tiga mempunyai arti tertentu dalam pemikiran Minangkabau, yaitu raja ibadat di Sumpur Kudus, raja adat di Buo dan raja alam di Pagaruyung. Sumpur Kudus mungkin yang paling awal memeluk agama Islam, karena adanya sungai Kampar dan Inderagiri yang ramai untuk perdagangan, dalam masa jaya kesultanan Malaka, sungai Kampar dan Inderagiri berkembang disekitar muara-muara sungai induknya sebagai daerah jajahan sultan yang paling penting, yang terkait dengan sultan Malaka dengan ikatan perkawinan dan hidup dari perdagangan transit emas dan kain India
Kedatangan pengaruh Hindu tidak merubah keadaan yang demikian itu. Secara umum pengaruh Hindu terasa di Minangkabau hanya pada waktu raja yang berkuasa seorang raja yang kuat seperti Adityawarman. Sesudah raja itu meninggal, maka pengaruhnya makin lama makin hilang, karena adat Minangkabau muncul kembali. Aditiyawarman merupakan seorang raja yang besar dan berkuasa penuh atas kerajaannya, banyak prasasti yang ditinggalkan menunjukan kebesaran kekuasaannya. Tetapi Putera Mahkota yang bernama Ananggawarman tidak sempat lagi memerintah. karena telah digantikan oleh orang Minangkabau sendiri yang dibantu oleh “Basa Ampat Balai” .
Sebaliknya pengaruh agama Islam membawa perubahan secara fundamental terhadap adat Minangkabau. Tetapi sejak kapan pengaruh Islam memasuki tubuh adat Minangkabau secara pasti, masih sukar dibuktikan.
Dengan masuknya agama Islam, maka aturan adat Minangkabau yang bertentangan dengan ajaran agama Islam dihilangkan dan hal-hal yang pokok dalam adat Minangkabau diganti dengan aturan agama Islam. Hal itu dapat terjadi, karena sebetulnya antara adat Minangkabau dengan ajaran agama Islam tidak terdapat pertentangan. Ajaran Agama Islam menambahkan aturan adat Minangkabau yang hanya memperhatikan alam dan manusia yang menghuninya, sedangkan masalah ke Tuhanan dan hari kemudian tidak terdapat.
Hal pokok yang berubah dari adat Minangkabau sesudah masuknya pengaruh ajaran agama Islam, antara lain seperti yang disebutkan oleh papatah adat : “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, artinya adat Minangkabau bersendikan pada agama Islam, sedangkan agama Islam bersendikan pada AI-Quran. Pengaruh agama Islam sangat besar terhadap adat Minangkabau, karena sendi-sendinya yang dirubah. Agama Islam melengkapi yang kurang, membetulkan yang salah, mengulas yang singkat, mengurangi yang berlebih, sehingga adat Minangkabau tidak menyimpang dari kebenaran sejati dan adat yang seperti itulah yang dijalankan di Sumatera Barat sampai saat ini.
c. Proses Masuknya Islam di Ranah Minang
Perkenalan pertama Minangkabau dengan Islam, sebagai yang masih diasumsikan, adalah melalui dua jalur yaitu : pertama, pesisir timur Minangkabau atau Minangkabau Timur antara abad ke-7 dan 8 Masehi, kedua, melalui pesisir barat Minangkabau pada abad ke 16 Masehi
Teori jalur timur didasarkan oleh intensifnya jalur perdagangan melalui sungai-sungai yang mengalir dari gugusan bukit barisan ke selat Malaka yang dapat dilayari oleh pedagang untuk memperoleh komoditi lada dan emas. Bahkan diperkirakan sudah ada pedagang-pedagang Arab muslim yang mencapai wilayah pedalaman ini sejak abad ke 7/8 Masehi (lihat : Mansoer,dkk., 1970 : 44-45). Kegiatan perdagangan ini, diperkirakan, adalah awal terjadinya kontak antara budaya Minangkabau dengan Islam. Kontak budaya ini kemudian lebih intensif pada abad ke 13 pada saat mana munculnya kerajaan Islam Samudra Pasai sebagai kekuatan baru dalam wilayah perdagangan selat Malaka. Pada waktu ini,Samudra Pasai bahkan telah menguasai sebagian wilayah penghasil lada dan emas di Minangkabau Timur.
Sedangkan asumsi masuknya Islam melalui pesisir barat didasari oleh intensifnya kegiatan perdagangan pantai barat Sumatera pada abad ke 16 M sebagai akibat dari kejatuhan Malaka ke tangan Portugis. Pada waktu ini, pengaruh kekuasan Aceh Darussalam (pelanjut kekuasan Pasai) sangat besar, terutama pada wilayah pesisir barat Sumatera. Intensifnya pengembangan Islam pada waktu inilah yang –oleh beberapa penelitian,-dijadikan sebagai dasar analisis bagi awal masuknya Islam di Minangkabau dan menghubungkan dengan nama Syekh Burhanuddin Ulakan yang –oleh beberapa penulis- dianggap sebagai tokoh “pembawa” Islam pertama ke wilayah ini. Para penulis menyatakan Syekh Burhanuddin adalah murid Syekh Abdur Rauf Singkil . Syekh Burhanuddin dikenal sebagai pembawa aliran tarikat Syatariyah ke Minangkabau untuk pertama kalinya. Setelah dilakukan penelitian terhadap ulama-ulama di Minangkabau, mereka menyatakan merasa resah akan pernyatakan para penulis tersebut. Mereka menyatakan bahwa Syekh Burhanuddin adalah berpaham Ahli Sunnah Waljamaah bermazhab Syafi’i. Itu terbukti pada buku yang merupakan tulisan tangan beliau, saat beliau meninggal yang diwasiatkan kepada Haji Muqaddam, kemudian diwasiatkan pada anaknya yang bernama Buya Tuo, seterusnya Haji Harum Langik, selanjutnya buku tersebut di bawa oleh MUI yang diketuai Buya Hamka untuk dilakukan bedah buku, maka terbukti ajaran Syekh Burhanuddin tidak ada hubungannya dengan Tarikat Syatariyah maupun Tarikat naqsabandiyah. Yang menjadi pertanyaan sampai saat ini, mengapa Buya Hamka tidak menyampaikan hal ini kepada rakyat Minangkabau? tentunya banyak sekali masalah agama yang belum tuntas untuk terselesaikan sampai saat ini dan menjadi misteri.
Proses masuknya Tarikat Syatariah ke Minangkabau
Sultan Iskandar Muda ( Banda Aceh, Aceh, 27 September 1636) merupakan sultan yang paling besar dalam masaKesultanan Aceh, yang berkuasa dari tahun 1607 sampai 1636.Aceh mencapai kejayaannya pada masa kepemimpinan Iskandar Muda, dimana daerah kekuasaannya yang semakin besar dan reputasi internasional sebagai pusat dari perdagangan dan pembelajaran tentang Islam. Pada saat itu beliau sangat resah akan perkembangan Tarikat Syatariah yang dibawa oleh Hamzah al-Fansuri yang berasal dari Ayuthaya, ibukota lama kerajaan Siam. Tarekat Syattariyah adalah aliran tarekat yang pertama kali muncul di India pada abad ke 15. Tarekat ini dinisbahkan kepada tokoh yang mempopulerkan dan berjasa mengembangkannya, Abdullah asy-Syattar. Awalnya tarekat ini lebih dikenal di Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dengan nama Isyqiyah. Sedangkan di wilayah Turki Usmani, tarekat ini disebut Bistamiyah.
Sultan menganggap ajaran Hamzah al-Fansuri adalah sesat dan diluar dari Islam. Oleh karena itu beliau memerintahkan prajuritnya untuk membunuh Hamzah al-Fansuri. Dalam pelarian terakhirnya beliau memutuskan untuk berdiam di Minangkabau . Setelah itu Hamzah al-Fansuri mengembangkan ajarannya dipedalaman minangkabau dan pesisir barat. Pada saat Hamzah al-Fansuri bertemu Syekh Burhanuddin, ternyata Syekh Burhanuddin menanyakan apa sebab Hamzah al-Fansuri lari dari Aceh dan sekarang berada di Minangkabau. Maka beliau menceritakan masalahnya terhadap Sultan Iskandar Muda, maka terjadilah perdebatan masalah Tarikat Syatariyah tersebut. Dengan pemahaman Syekh Burhanuddin adalah berpaham Ahli Sunnah Waljamaah bermazhab Syafi’i yang merupakan ajaran yang berasal dari Mekkah, bukan india. Maka Hamzah al-Fansuri menyatakan kesalahannya dan bertaubat, dan dia sedih bahwa ajaran Tarikat Syatariyah telah berkembang di Minangkabau. Tentunya dia sulit untuk mengajak muridnya untuk kembali pada Islam yang benar. Setelah wafatnya Syekh Burhanuddin dan Hamzah al-Fansuri, maka murid-murid Hamzah al-Fansuri mengklaim bahwa Syekh Burhanuddin lah yang membawa ajaran Tarikat Syatariyah. Oleh karena Syekh Burhanuddin sangat dekat dengan Hamzah al-Fansuri pada saat beliau telah taubat.
Masuknya Tarikat Syatariyah Tarikat ini kemudian berkembang di Minangkabau dengan persebaran surau-surau Syatariyah yang didirikan oleh murid-murid Hamzah al-Fansuri sendiri. Jalur pengembangan tarikat Syatariah yang berawal dari pesisir barat ini , termasuk pengembangannya ke wilayah pedalaman. Kalau memang Syekh Burhanuddin yang menyebarkan Tarikat Syatariyah di Minangkabau maka tentunya ajaran ini merupakan mayoritas saat ini di Ranah Minang. Akan tetapi mengapa ajaran ini minoritas di Ranah Minang ?
Ungku Saliah
Jika Anda berkunjung ke rumah makan Padang atau tempat-tempat tertentu yang milik hubunganya dengan Padang. Mungkin saja Anda sering melihat foto seorang kakek-kakek yang memakai kopiah haji atau peci warna hitam yang terpajang didinding. Kakek tersebut adalah Ungku Saliah sepupu dari Pakiah Saleh dimana beliau dekat sekali dengan Buya Hamka . Ungku Saliah adalah seorang yang taat beragama semasa hidupnya dan beliau bermazhab syafi’i, beliau tinggal di daerah Piaman Laweh, atau tepatnya di daerah Sungai Sariak, Pariaman.
Setelah wafat, makam dan foto beliau dikeramatkan oleh murid-murid Hamzah al-Fansuri, para pengagum dan orang-orang yang mengetahui cerita serta seluk beluk beliau. Fotonya pun sering dijadikan jimat pelaris dagangan. Termasuk di kedai-kedai nasi, rumah makan ataupun restoran Padang yang mungkin pernah Anda jumpai.
Jika ada foto kakek berkopiah itu terpajang di dinding rumah makan Padang, Anda bisa langsung menyimpulkan bahwa kedai, toko atau rumah makan Padang tersebut adalah milik orang Pariaman yaitu Ungku Saliah atau masakannya merupakan khas Pariaman. Demikian juga Pakiah Saleh sama nasibnya dengan Ungku Saliah, dimana foto dan gambarnya terpajang di Rumah Makan Padang. Ini membuat keluarga beliau berang sekali. Hal ini terjadi di Kota Pekanbaru Riau ketika keluarga beliau yang sedang makan di Rumah Makan tersebut memaksa pemilik Rumah Makan tersebut untuk menurunkan foto Pakiah Saleh. Ditambah pada tahun lalu ketika keluarga berniat membersihkan kuburan Pakiah Saleh tidak diduga ternyata Sesaji dan Cangkang Kerang besar yang di isi air hujan di letakkan di sekeliling kuburan, ternyata kuburan ini telah dikeramatkan oleh murid-murid Hamzah al-Fansuri. Maka dengan terpaksa keluarga almarhum Pakiah Saleh membersihkan sesaji dan sampah-sampah tersebut dimana mereka menilai itu adalah syirik.
Sehingga keluasan cakupan implementasi ajaran tasauf di Minangkabau sebagai dikemukakan, memang menarik untuk dikaji, karena kemampuan para tokoh tasauf dalam mentranformasikan inti ajarannya terhadap persoalan-persoalan kemasyarakatan, sehingga keberadaannya sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat termasuk kehidupan ekonomi, terutama di wilayah agraris pedalaman Minangkabau. Perkembangan Islam di sini -dalam perjalanannya memang di warnai oleh berbagai konflik keagamaan seperti yang terlihat dalam beberapa episode kesejarahan dalam abad ke 19 dan 20 dan hal ini sering dipandang sebagai suatu keniscayaan sejarah yang dapat dipahami pada akar kultural masyarakat Minangkabau sendiri. Akan tetapi, keadaan konflik ini juga, justru sekaligus memiliki potensi memunculkan berbagai praksis kultural dalam dinamika perkembangan masyarakatnya. Konflik keagamaan yang terjadi, baik antara Syathariyah dan Naqsyabandiyah, maupun antara Naqsyabandiyah dengan golongan pembaharu, telah melahirkan dinamika polemik pemikiran keagamaan yang berimplikasi terhadap intensitas kegiatan intelektual yang ditandai banyaknya dihasilkan naskah keagamaan. Naskah mana tentu tidak bisa diabaikan dalam melihat berbagai aspek kehidupan keagamaan di daerah ini.
Latar depan fenomena keagamaan abad ke 19 dan ke 20, di saat mana lahirnya gagasan-gagasan awal pembaharuan Islam di Minangkabau, tidak dapat dilepaskan dari fenomena historis yang terjadi sejak abad ke 16 atau mungkin sejak abad ke 13 seperti yang diasumsikan sebagai awal kontak budaya Islam di wilayah ini. Kontak awal Islam ini, demikian juga proses serta bentuk konversi terhadap Islam pada tahap-tahap awal itu, tentu akan menjadi salah satu determinan yang memberi warna terhadap berbagai karakteristik yang muncul dalam perkembangan historis masyarakat di wilayah ini. Akan tetapi beberapa penjelasan sejarah yang banyak ditulis, sering memandang fenomena tersebut dari perspektif sosial struktural semata, sehingga kenyataan historis Islam itu sendiri luput diperhatikan. Apalagi pula kenyataan sumber-sumber yang terbatas serta paradigma sejarah yang barat sentris, menjadikan beberapa dimensi dari pengalaman historis agama ini menjadi terabaikan.
Gerakan pembaharuan Islam di Sumatera Barat dimulai ketika Tuanku Nan Tuo bersama murid-muridnya di surau Koto Tuo mengambil peran pemasyarakatan syari’ah dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat agraris di wilayah pedalaman pada akhir abad ke-18. Gerakan yang merupakan aksi penataan kehidupan masyarakat dengan norma-norma keislaman pada fase pertama ini berjalan tanpa gesekan-gesekan. Namun pada fase kedua lebih meruncing karena menguatnya resistensi kaum adat. Kalangan adat merasa bahwa otoritas mereka terganggu oleh aksi beberapa kalangan ulama murid Tuanku Nan Tuo yang tidak sabar dalam menjalankan aksi syar’iyah yang dihadapkan pada praktek-praktek adat yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Pertikaian adat dan agama yang terjadi pada awal abad ke 19 ini, oleh beberapa penulis – terutama penulis asing–, dianggap sebagai aksi radikalisme yang dibawa dari pusat agama Islam sendiri. Berbagai interpretasi atas konflik inipun kemudian menjadi bahasan ‘menarik’ untuk memberikan gambaran “kelabu” sebagai militansi golongan Islam dalam masyarakat Minangkabau, sebagaimana kita saksikan pada akhir tahun 2007 yang lalu.
Pertikaian adat dan agama yang terjadi di wilayah pedalaman pada paruh pertama abad ke-19 menjadi “jalan masuk” bagi Belanda ke wilayah ini. Belanda, pada waktu sebelumnya hanya dapat menguasai wilayah pesisir karena kuatnya pertahanan wilayah pedalaman di bawah kaum agama, namun dengan politik “belah bambu”, Belanda mencoba memanfaatkan kedekatannya dengan kaum aristokrasi adat untuk secara berangsur-angsur menguasai wilayah-wilayah mereka sambil menekan golongan Islam. Kaum agama yang telah menguasai banyak nagari di wilayah pedalaman berusaha mempertahankan wilayah mereka dari intervensi asing. Ketika tujuan apa yang ada dibalik kerjasama Belanda dengan aristokrasi adat disadari, maka perjuangan kaum agama islam ahlussunnah wal jamaah ini beralih menjadi perlawanan terhadap penjajahan (disebut : Perang Paderi).
Selain itu, gerakan keagamaan yang telah berlangsung pada peralihan abad ke-18 dan ke-19 juga diwarnai dengan konflik keagamaan antara Syathariyah dan Naqsyabandiah. Setelah berakhirnya Perang Paderi 1837, perdebatan internal seputar paham tarikat ini ternyata tidak makin mereda, meski perhatian pada perbedaan pendapat itu teralihkan pada saat menghadapi musuh bersama. Polemik keagamaan ini kembali meruncing dan bahkan berimplikasi terhadap tumbuhnya motivasi sebagian masyarakat untuk berangkat ke Mekkah memperdalam pengetahuan agama Islam yang benar sambil menunaikan ibadah Haji, sehingga mereka sadar akan kesesatan ajaran Tarikat Syatariah dan Tarikat Naqsyabandiah. Kontak kedua kalangan ulama Minangkabau dengan Timur Tengah ini telah membawa pemikiran-pemikiran keagamaan yang sangat berpengaruh bagi perubahan-perubahan sosial di Minangkabau pada waktu-waktu berikutnya.
Pembaharu Islam di Minangkabau
Ahmad Khatib Al-Minangkabawy, salah seorang putera Minangkabau yang tidak merasa betah dengan kondisi sosial di daerah kelahirannya ini, mencoba untuk menetap di Mekkah dalam rangka mendalami ilmu-ilmu agama. Ketekunan serta tekadnya yang kuat menyebabkan Ahmad Khatib akhirnya mampu berdiri sejajar dengan ulama-ulama Timur Tengah lainnya, bahkan, dialah ulama asing pertama yang mampu menduduki posisi Mufti mazhab Syafi’i di Mekkah. Banyak kalangan ulama Indonesia yang belajar ke pusat Islam ini dikader langsung oleh Ahmad Khatib sendiri. Kepulangan murid-murid Ahmad Khatib ke Indonesia inilah salah satunya KH Ahmad Dahlan (di pulau Jawa), Murid-muridnya kemudian menjadi penggerak pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau, seperti Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860 – 1947), Haji Abdul Karim Amarullah (1879-1945) , dan Haji Abdullah Ahmad (1878 – 1933) –menurut banyak kalangan–, telah memberikan kontribusi bagi pembaharuan keagamaan tahap kedua serta tumbuhnya pemikiran kebangsaan yang menjadi pemicu perlawanan terhadap kolonialisme di Indonesia pada awal abad ke-20.
Munculnya generasi baru intelektual Islam Minangkabau pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 ini ternyata mampu menjadi penyeimbang aksi politik etis Belanda yang telah memperluas jalur pendidikan barat bagi masyarakat pribumi. Surau-surau yang menjadi sentra pendidikan anak nagari di Minangkabau memperoleh nafas baru untuk bangkit bersaing dengan sistem pendidikan barat.
Namun, seiring dengan kembalinya generasi baru intelektual Islam yang belajar di Timur Tengah ini ke Minangkabau, tercipta pula sebuah dinamika konflik keagamaan baru yang dipicu oleh munculnya pemikiran baru seputar keterikatan kepada mazhab dan kebolehan berijtihad. Konflik internal kedua ini lebih dikenal dalam sejarah dengan polemik Kaum Tua dan Kaum Muda. Persoalan pertama yang menjadi tema perdebatan kaum ulama ini adalah masalah praktek pengamalan tarikat Naqsyabandiyah yang oleh sebagian ulama pembaharu dianggap banyak yang keluar dari ajaran Islam yang sebenarnya, seperti praktek wasilah yang dianggap tidak sesuai dengan sunnah (Hamka, 1967:79). Persoalan ini kemudian berkembang kepada masalah yang menyangkut kebolehan ijtihad serta perbedaan pendapat tentang masalah-masalah furu’iyyah lainnya.
Pendek kata, situasi Minangkabau dengan keunikan kulturalnya telah melahirkan banyak tokoh intelektual dan pejuang yang responsif terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi di zamannya ; tokoh wanita semisal Rohana Kudus, Siti Manggopoh, Rahmah el-Yunusiyyah, Ratna Sari, dan lain-lain dari kalangan wanita di negeri ini, demikianpun di bidang politik kenegaraan seperti Syahrir, Mohammad Yamin, H. Agus Salim, Natsir, Hamka dan lainnya yang terlalu banyak untuk disebut satu persatu. Setidaknya sampai zaman kemerdekaan tokoh-tokoh dalam berbagai bidang telah terlahir dari ranah Minang ini.
Dari catatan sejarah setelah kemerdekaan, kita menyaksikan suatu perubahan yang cendrung memperlihatkan gejala penurunan yang drastis yaitu tidak banyaknya muncul tokoh intelektual sebagaimana waktu sebelumnya. Hingga masa akhir Orde Baru, produk intelektual Minangkabau semakin tidak banyak yang mampu mewarnai khazanah pemikiran di negeri ini, gagasan-gagasan segar dari kalangan intelektual, politisi dan ulama tidak lagi menggema di seantero nusantara ini. Demikian juga dalam bidang pendidikan Islam,–setidaknya dalam tiga dasa warsa terakhir–, madrasah-madrasah jelmaan dari surau-surau yang dulunya didatangi oleh murid dari berbagai pelosok tanah air, untuk sebahagian hanya tinggal nama. Banyak madrasah yang sudah kehilangan tokoh kharismatis, akibat mandegnya proses regenerasi dikalangan mereka. Inilah realitas Minangkabau hingga waktu ini.
Senin, 29 November 2010
Matur Dihantam Howitzer & Dibumi-hanguskan pada Agresi II Belanda
Oleh :
Anwar Harry St. Pamenan *)
Peristiwa 18 Desember 1948 sangat mengejutkan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat yang berada dalam kota Bukittinggi sebagai pusat pemerintahan di Sumatera. Pada malam hari pada tanggal 18 Desember 1948 hari terang bulan, udara sejuk dipelukan Merapi dan Singgalang ini dikejutkan oleh deru pesawat udara yang tiada henti-hentinya berputar-putar di udara Bukittinggi, putaran mana juga sampai ke Matur. Pada saat itu desas-desus bahwa bapak Presiden dan Inyiak H. Agus Salim akan singgah di Bukittinggi dalam perjalanannya ke India, oleh sebab itu timbul dugaan bahwa pesawat yang selalu berputar-putar di udara Bukittinggi itu tidak melihat kode lapangan atau lapangan sama sekali tidak terlihat dari udara. Untuk itu seluruh mobil-mobil yang ada dalam kota sama-sama pergi ke lapangan untuk menerangi lapangan yang kelak di darati oleh pesawat kepala negara.
Namun setelah berjam-jam dan telah diberi kode untuk segera mendarat namun pesawat tetap juga berputar-putar di udara. Rakyat jadi gelisah, dan para pemimpin jadi timbul tanda tanya, apa sebenarnya, kenapa pesawat yang telah diberi kode dengan lampu itu belum uga mendarat ?. Sementara itu arus penduduk yang berbondong-bondong ke lapangan udara Gadut tidak bisa ditahan. Mereka ingin menyambut kedatangan presiden mereka. Semalam suntuk penduduk Bukittinggi tidak tidur. Mereka merasa pasti bahwa yang ada dalam pesawat yang berputar-putar di udara Bukttinggi itu tidak lain adalah presiden dan Inyiak H. Agus Salim, dua pimpinan yang mereka cintai. Oleh sebab itu rakyat terus berdesakan terus mendekati lapangan udara Gadut. Apalagi setelah tersiar kabar bahwa presiden hanya akan singgah sebentar saja di Bukittinggi kemudian melanjutan perjalanan ke India. Khawair tidak akan melihat wajah presidennya inilah mereka mendesak terus mendekati lapangan udara. Semua alat negara menjadi kewalahan menahan arus rakyat ini.
Kecintaan rrakyat akan pemimpinnya ini pasti saja diketahui oleh Belanda yang pada saat itu sedang bercokol di kota Padang, dan dapat dipastikan bahwa pesawat yang menderu-deru di udara Bukittinggi ini pasti saja berpangkalan di lapangan Tabing Padang, dan sekarang dapat diperkirakan bahwa hembusan kedatangan presiden dan rombongan pasti ulah kaki-tangan NICA. Ini juga merupakan betapa awamnya pihak dinas rahasia kita pada masa itu dan keawaman ini dipergunakan oleh kaki tangan musuh menyelundupkan berita kedatangan presiden. Demikian derasnya hembusan kedatangan presiden dan rombongan yang hanya singgah sebentar saja di Bukittinggi selaku daearah pemerintahan Sumatera sehingga rakyat sekeliling kota dan sekitarnya yang berdekatan dengan Bukittinggi seperti dikomando untuk menyongsong kedatangan presiden dan ingin mendengar wejangan serta nasehat beliau.
Oleh karena itu pada pagi subuh yang sunyi dan nyaman Bukittinggi telah padat oleh penduduk yang berdatangan dari sentereo kampung yang berdekatan. Tapi . . . semua dugaan dan gambaran akan berjumpa dengan presiden itu ternyata merupakan
fatamorgana belaka. Tepat jam 06.00 tiga buah bomber dengan semena-mena telah membom kota kesayangan Bukittinggi. Tembakan mitraliur dan dengan segala ledakan dahsyat telah menghancurkan segala ketenangan dan harapan rakyat. Belanda telah melaksanakan aksi polisionalnya yang kedua, sedangkan pihak republik menyebutnya sebagai “agresi militer kedua” terhadap jantung pemerintahan baik Jogjakarta maupun atas kota Bukittinggi sebagai pusat pemerintahan Sumatera.
Rakyat Indonesia terutama yang berada dalam kota Bukittinggi dan sekitarnya tadi malam semalam suntuk tidak tidur dikarenakan hembusan kedatangan presiden dan rombongan sama-sama berbondong-bondong ke Gadut menanti kedatangan presiden, sekarang masih dala keadaan mengantuk dan lelah karena tidak tidur, tau-tau dihantam dan dikejutkan oleh sipongang, ledakan bom dan rentetan bunyi letusan mitraliur yang dibarengi dengan pekikan dan erangan, menjadikan kota Bukittinggi centang perenang. Kematian mengintai disetiap sudut dan liku. Perang “merdeka atau mati” sekarang meminta bukti dan darma bakti putra putrinya.
Pada tanggal 18 Desember 1948 dipagi subuh yang damai di lereng lembah merapi dan singgalang dicatat dalam sejarah sebagai pagi yang kelabu, penuh dengan kengerian dan kematian atas kekejaman dan kebiadaban Belanda yang ingin hendak
berkuasa kembali dibumi Indonesia tercinta ini. Perang total tidak bisa dihindarkan lagi. Belanda dengan telah sengaja menghianati perjanjian Linggar Jati. Belanda telah menghabur-hamburkan mait kepada seluruh bangsa Indonesia. Rakyat yang tidak bersalah dan tidak berpengalaman melindungi diri dalam perang moderen telah jadi umpan peluru. Sebaliknya rakyat yang tidak dilindungi oleh senjata-senjata mutakhir itu sekarang jadi panik serta berlarian tidak tentu arah.
Peristiwa ini sangat menguntungkan sekali bagi Belanda yang hendak mencengkeramkan kuku penjajahannya kembali. Tapi mereka tidak sadar betapa pahitnya derita sengsara yang dialaminya semasa pendudukan Jepang. Mereka kembali pongah dan besar kepala melawan rakyat yang tidak bersenjata, tapi mereka juga lupa akan tekad dan sumpah “merdeka atau mati” dari seluruh bangsa Indonesia.
Kepala pemerintahan dan komandan militer kota Bukittinggi segera mengeluarkan pengumuan bahwa Belanda telah mulai menteror rakyat dengan kebiadabannya. Untuk itu kepada seluruh rakyat Indonesia yang cinta akan kemerdekaan supaya menyingkir ke luar kota, dan barang siapa yang berani menghianati perjuangan suci kemerdekaan itu akan digilas oleh revolusi bangsa sendiri. Kemudian oleh komandan militer Bukittinggi, seluruh proyek-proyek vital dibumi hanguskan demikian juga bagunan Hotel Merdeka juga dibumi hanguskan. Bukittinggi jadi lautan api. Rakyat merintih menahan sakit hati. Rakyat tidak meratapi kematian sanak saudaranya, tapi mereka meratapi kesengsaraan yang harus dilalui oleh Indonesia merdeka yang baru berusia tiga athun itu.
Perjuangan baru akan dimulai dan tidak tahu kapan akan berakhirnya. Aksi polisionil telah merobek-robek segala perjanjian. Belandalah yang akan bertanggung jawab di Mahkamah Internasional. Rakyat Indonesia cinta damai, . . . tapi mereka lebih cinta kemerdekaan. Oleh karena itu dimana-mana diseluruh pelosok tanah air di kawasan Nusantara yang disebut oleh Belanda pada jaman dahulu sebagai “Nederland Indie” atau daerah Hindia Belanda itu, rakyat sekarang sedang diuji keampuhan dan kesanggupan dalam mempertahankan kemerdekaan yang telah dikumandangkan sejak tanggal 17 Agustus 1945. Rakyat Indonesia bertekad bulat Merdeka atau mati.
Tidak ada jalan lain bagi bangsa Indonesia untuk menghadapi musuh yang memiliki perlengkapan senjata serba moderen ini selain dengan mengadakan perang gerilya. Taktir mundur dan maju akan segera diatur. Oleh sebab itu biarkan saja kota itu untuk sementara dikuasai, tapi secara bertahap satu demi satu kota itu akan direbut. Belanda yang tersebar luas di seluruh kota akan kalang kabut nanti membagi tenaganya dalam menghadapi perang gerilya dari rakyat. Bangsa Indonesia tidak mungkin mengadakan perlawanan frontal secara terbuka, tapi taktik gerilya akan menghancurkan seluruh benteng pertahanan Belanda itu. Ini semua akan kita buktikan . . .
Setelah kota Buittinggi dapat diduduki oleh serdadu Belanda, berkat bantuan bomber dan mustangnya, rakyat menyingkir keluar kota, terutama derah-daerah yang dianggap aman dan ada persawahannya, karena bagaimanapun juga hebatnya perang namun perut tidak kenal kompromi. Justru itu penuh sesaklah Matur dan Palembayan oleh arus pengungsi. Para pengungsi ini tidak saja datang dari Bukittinggi, tapi juga berasal dari padang dan Padang Panjang. Ramailah Matur, padatlah palembayan oleh bangsa Indonesia yang ingin merdeka.
Rakyat Matur yang dikenal sebagai insan-insan perantau sekarang berada di matur. Ada yang pulang karena kehidupan dirantau tidak menguintungkan lagi. Ada yang pulang untuk berjuang dengan saudara-saudaranya. Ada juga yang pulang karena perhubungan dengan daerah rantaunya terputus, namun kesemuanya itu menjadikan negeri Matur yang elok permai itu tampak bergairah karena padat oleh penduduk dan pendatang. Jadilah daerah Matur sebagai daerah “basis” baik pemerintahan darurat maupun daerah militer.
Kepala Staf Sub Komando A, Letkol Abdul Halim yang lebih populer dengan sebutan bapak Aleng adalah putera Matur, kemenakan dari Angku Lelong Dt. Mangkuto Alam, sekarang mengatur siasat dan strategi perjuangan dalam mengembangkan perang gerilya. Jadilah Matur sebagai pusat gerilya.
Atas peristiwa penghianatan atas segala perjanjian oleh Belanda ini, serta peristiwa aksi polisionil Belanda 18 Desember 1948 yang merobek-robek jantung pertahanan republik Indonesia sangat menjengkelkan pihak militer, sekurang-kurangnya pihak Sub Komando A. Karena menurut uraian “bapak Aleng”, begitu pasukan republik siap tempur, oleh pemimpin politisi diadakan perundingan dan perdamaian. Jadilah siap tempur itu menjadi siap ditempat tidak boleh meletuskan senjata. Oleh karena kita rakyat republik Indonesia selalu menjunjung tinggi etika perjuangan dan tidak ingin menghianati perjanjian sekalipun dengan musuh, kita terpaksa menahan hati untuk tetap patuh. Oleh karena tidak ada perang maka oleh para pemimpin politisi Indonesia diadakan “Rasionalisasi Militer”. Banyak anak buah militer terkena B.III atau di pensiunkan. Maksudnya tidak lain karena alasan keuangan. Bukan hanya itu, karena perang tidak ada maka pasukan dikirim ke garis belakang untuk dilatih dan disekolahkan. Peristiwa ini pasti saja menguntungkan pihak musuh, dan pada saat yang menguntungkan musuh ini disaat itu mereka melancarkan serangan dengan membabi buta. Akibatnya kocar-kacirlah rakyat tanpa komando. Jadilah rakyat Indonesia sebagai bulan-bulanan peluru musuh. Selanjutnya kata bapak Aleng; “bila kita telah siap dengan segala konsolidasi dan siap tempur lagi maka pemimpin politik kebali berunding dan tiap perundingan pasti mempersempit daerah republik. Demikianlah halnya. Mula pertama garis demarkasi untuk kota Padang terletak dekat Tabing. Kemudian digusur akibat perundingan ke daerah Pasar Usang. Seterusnya ke Lembah Anai. Berunding dan perundingan ini pasti dilaksanakan oleh para pemimpin politik, sedangkan pihak militer tidak dimintai pertimbangannya”. Demikian antara lain keterangan bapak Aleng. Demikian juga halnya sewaktu pertumbuhan TNI. Setelah mengalami berbagai tempaan dan penderitaan lulus dalam berbagai cobaan dan dalam keadaan siap siaga, siap tepur, terdengar pula berita penghentian tembak-menebak. Kesemuanya itu menguntungkan pihak musuh.
Kembali kita ungkit kenangan lama setelah jatuhnya Bukittinggi ketangan Belanda. Pasukan republik menghindar ke luar kota pada umumnya mereka terpisah dari pasukan induknya. Justru itu merupakan kewajiban komandanlah untuk menyusun anak buahnya. Semua pasukan yang terkena B.III dipanggil kembali, demikian juga para pemuda yang sedia berkorban untuk tanah air tercinta untuk dididik dan dilatih. Oleh karena memanggil dan mengumpulkan serta mendidik pemuda itu memakan waktu, maka Matur untuk pertama kalinya mengalami cobaan. Darah para syuhada dan pahlawan telah megalir membasahi Matur ketika mendapat kiriman “houwetzer” dari Bukittinggi. Selama lebih kurang 3 jam tembakan houwetzer menghantam Matur. Maka tercatatlah korban jiwa yang mati pada saat itu seperti Mirin gelar Sutan Makmur, ‘wali nagari perang’ Matur Hilir, serta
Tentara Inggris & Howitzer. Inilah jenis artileri medan yang digunakan Belanda menghantam Matur pada tahun 1948
Nursyam satu kelaurga 9 jiwa putra Matur Hilir, dan lain-lain.
Kesemua korban houwetzer ini baru besoknya hari Sabtu baru dapat diselamatkan dan dikuburkan dimakam keluarga masing-masing. Perlu kita catat disini bahwa Mirin Sutan Makmur adalah putera daerah Matur yang sudah sejak lama, sejak masih pada jaman Belanda dengan gigih menantang penjajah. Beliau adalah orang pergerakan dari organisasi Muhammadiyah, yang sering ditangkap dalam rapat-rapat Muhammadiyah karena ucapan dan pidatonya dianggap merugikan pemerintah Hindia Belanda. Sewaktu berkumandangnya proklamasi, beliau terpilih sebagai Sekretaris Komite Nasional. Beliau pemuka masyarakat yang disegani dan dihormati oleh kawan maupun lawan. Mudah-mudahan darah beliau yang tertumpah di tanah persada ini akan merupakan dharma bakti transfusi darah jayanya Indonesia merdeka. Dan kepada Allah kita panjatkan do’a semoga seluruh amalan beliau diterima di sisinya. Juga untuk semua korban yang berjatuhan kita serahkan kepada Tuhan.
Perlu kita catat disini melihat akan perjuangan dan kegigihan Alm. Mirin Sutan Makmur selagi hayat dalam mewujudkan Indonesia merdeka, sewajarnyalah pemerintah daerah memberikan gelar kehormatan sebagai pahlawan daerah. Demikian juga sampai sekarang kuburan beliau tidak terawat sebagai layaknya karena keluarga beliau bukanlah orang berpunya. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya ? . . .
Setelah hantaman houwetzwer ke Matur yang memakan korban harta benda dan jiwa, sedangkan pasukan republik belum terkoordinir sebagaimana diharapkan, kembali mengaum dua buah “mustang cocor merah”. Rupanya pasukan udara mengiringi pasukan daarat menuju Matur. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 14 Juli 1949. Maka untuk pertama kalinya terjadilah bentrokan senjata antara pasukan republik yang tidak berpengalaman dengan serdadu Belanda yang berpengalaman dan senjata lengkap serta terlatih di jalan sempit Parit Panjang. Maka tercatatlah dalam peristiwa ini seorang pemuda bernama Udin Tirai mati dalam mempertahankan kemerdekaan.
Kemudian serdadu Belanda ini meneruskan perjalanannya yang dikawal melalui udara menuju Matur. Disinipun terjadi bentrokan senjata dengan seorang “Pemuda Barisan Rakyat Sukarela” bernama Husin. Jatuhlah korban untuk hari itu dua orang pemuda yang gagah berani. Mereka telah membuktikan “merdeka atau mati”. Pasukan kita bukan saja sulit dalam menghimpun kekuatan karena jatuhnya Bukittinggi tapi juga mengalami kesulitan karena daerah terpencar-pencar tanpa penghubung antara satu daerah dengan daerah lainnya kecuali harus melalui hutan belantara akan memakan waktu yang cukup panjang, dalam keadaan masih mengatur atau menghimpun kembali Belanda menyerang Matur, yang tiap kedatangannya pasti diiringi dengan pesawat udara untuk melindungi pasukan darat. Untuk kedua kalinya terjadi pertempuran yang bisa disebut dengan sabotase dari pasukan republik di daerah Parit Panjang, yang mengakibatkan gugurnya seorang pemuda bernama Harun Sutan Pamenan.
Setelah Belanda berhasil membunuh Harun Sutan Pamenan, pasukan republik segera disiapkan bila nanti pasukan Belanda kembali ke Bukittinggi. Belanda pasti mengira bahwa di Matur tidak ada pasukan republik karena memang sengaja dikosongkan, dengan perhitungan nanti bila Belanda kembali oleh karena tidak ada perlawanan pasti mereka tidak dikawal dari udara. Nah kesmepatan inilah yang ditunggu oleh pasukan republik. Tapi sayangnya rencana ini tercium oleh Belanda. Mereka kembali ke Bukittinggi tidak melalui Parit Panjang yang telah disiapkan tapi mereka terus berjalan melalui Air Sumpu terus ke Panorama Baru, Pembidikan dan terus ke Kampung Pulasan. Sedangkan pasukan republik tetap siaga menanti orang yang tiadakan datang. Dalam perjalanannya ke Bukittinggi, Belanda sempat menangkap dua orang petani yaitu Mustafa gelar “Rang Kayo Mudo” dan Labai Kuna “Datuak Indo Marajo”. Dibawah todongan senjata dua petani ini terpaksa menunjukkan jalan ke Kurai.
Berdasarikan perhitungan strategi dan menghindarkan korban dari rakyat, maka kalau tadinya front boleh dikatakan di Parit Panjang maka sekarang front diperpanjang ke daerah Sungai Tanang di Durian. Di situ selalu terjadi perang kecil-kecilan. Hal ini tentu saja disesuaikan dengan kemampuan senjata oleh pasukan republik, hingga pada suatu saat terjadilah pertempuran yang sangat hebat di daerah Koto Tuo. Pertempuran ini berkobar karena pasukan Belanda tidak dikawal oleh pasukan Udara. Areal pertempuran di alam terbuka ini menghendaki keberanian dan kemahiran. Pemuda Syofyan Tando putera daerah Matur Hilir bekas Hei Hoo memimpin pertempuran yang dinilai sangat hebat ini, yang berakhir dengan kematian pemuda Syofyan Yando. Sedangkan dipihak Belanda tewas 5 orang. Disamping kita bangga dengan Syofyan Tando, tapi kita kehilangan seorang pemuda yang gagah perkasa. Mereka telah pergi denga tekad ‘merdeka atau mati’.
Melihat kenyataan stand 1 – 5 ini Belanda kembali melancarkan serangan. Sekarang dengan dikawal oleh pasukan udara, dengan deikian Belanda berusaha terus untuk maju ke Matur. Namun dalam perjalanan Belanda selalu mendapat hadangan yang hebat dari pejuang-pejuang republik. Tiada sedikit korban di pihak Belanda walaupun mereka dikawal oleh “musttang cocor merah “, tapi seangat dan ala Matur memberikan dorongan kepada pasukan republik. Pertempuran sepanjang hari yang dimulai dari daerah Balingka terus sepanjang jalan, akibatnya tiap bangunan sepanjang jalan Panta, Pauah, Parit Panajng habis dibakar oleh Belanda. Pertempuran berkecamuk di Parit Panjang. Seorang pemuda Matur Hilir bernama Adnan Ilyas dari pasukan ‘Mobrig’ mati tertembak musuh. Oleh karena korban Belanda sangat banyak dibanding dengan pasukan republik maka mayat Adnan Ilyas digantung dan dibakar oleh Belanda. Inilah perang yang menghendaki pengorbanan yang tiada batas. Walaupun musuh telah mati namun dendam meraja lela dalam angkara murka penjajah Belanda. Demikian selanjutnya Belanda melanjutkan perjalanan menuju Matur, setiap jalan tiap bangunan akan jadi sasaran pembakaran oleh Belanda yang telah kematian banyak serdadunya itu.
Tatkala memasuki Matur Belanda boleh dikatakan tidak menemui perlawanan. Matur sengaja dikosongkan karena kuatir bila terjadi pertempuran di Matur maka sasaran yang akan menjadi korban tidak lain adalah rakyat. Disamping itu juga mengingat akan rapatnya rumah penduduk, jangan-jangan nantinya semua rumah penduduk itu akan jadi sasaran pembakaran. Namun Belanda yang sudah banyak kehilangan serdadunya sepanjang jalan menuju Matur telah kehilangan pertimbangan serta bertindak membabi buta saja. Akibatnya jadilah Matur sebagai lautan api. Semua bangunan rakyat yang dibangun dengan susah payah pada waktu berakhirnya tanaan paksa dan dengan uang bantuan dari wesel pos, sekarang telah rata dengan bumi akibat dibakar oleh serdadu NICA yang telah kehilangan akal.
Disamping itu Belanda juga membakar bangunan pesanggerahan yang dibangun oleh jenderal Van De Bosch, diperkirakan semua bangunan yang dibakar oleh Belanda sejak dari Panta, Pauah, parit Panajng, Kampuang Tingga, dan di sekeliling pasar matur tidak kurang dari 120 buah bangunan rumah. Jadilah Matur bagai dikalahkan garuda. Rakyat tafakkur dan bermohon kepada Tuhan semoga diturunkan bantuan serta diberi kekuatan moral dalam mewujudkan Indonesia Merdeka.
Dengan hebatnya kesedihan yang melanda Matur, namun rakyat tetap yakin bahwa perjuangan Indonesia merdeka pasti akan tercapai. Rata semua bangunan oleh api bukanlah melemahkan perjuangan, justru menebalkan iman mereka untuk meneruskan perjuangan itu. Semua rakyat yang rumahnya telah terbakar atau yang tidak sempat dimamah api di sekeliling pasar Matur menyingkir ke kampung-kampung untuk selanjutnya memulai usaha perjuangan.
Melihat Matur telah jadi lautan api dan sekarang telah rata dengan bumi, pihak militer sub komando A menjadikan daerah Pasar atur sebagai Staf Kwartir. Semua pasukan telah selesai di konsolidasi. Semua kekuatan telah tersusun. Jika selama ini kita semua bersifat menanti, maka sekarang diatur siasat mengadakan serangan offensif ke daerah musuh. Front tidak lagi berada di sepanjang jalan antara Matur dan Sungai Tanang, tapi harus berada dalam kota Bukittinggi itu sendiri. Pasukan-pasukan yang bermarkas di Matur telah diatur dan diberi asrama. Bermacam nama dan jenis senjata mereka. Ada Kompi Barayun, Kompi Singgalang, Kompi Gajah Mada, kompi Tundra, Kompi Bakapak serta banyak lagi barisan yang siap bertempur menunggu komando. Inilah hasil konsolidasi. Belanda jangan coba-coba lagi untuk datang ke Matur. Pasukan republik sekarang telah mempunyai senjata berat dan sanggup untuk bertempur dalam keadaan bagaimanapun.
Analisa Jenderal Spoort untuk menghancurkan republik Indonesia dalam tempo tiga minggu adalah khalayan belaka, malah makin hari tentara republik makin sepurna dan makin berkembang. Belanda yang berada dalam kota bagaikan berada dalam bara panas yang sewaktu-waktu dan setiap saat jiwa mereka terancam. Berkali-kali Bukittinggi dapat serangan, baik siang maupun malam hari dari berbagai jurusan. Inilah hasil konsolidasi dari Divisi IX Sub Komando A, yang kepala stafnya adalah bapak Aleng putra daerah Matur Hilir.
Belanda yang berada di Bukittinggi ini akhirnya mengetahui juga bahwa kekuatan militer di Sumatera Tengah berpusat di Matur, justru itu mereka berkali-kali mengadakan serangan ke Matur. Tapi semau serangan itu dapat dipatahkan dalam perjalanan dan berkali-kali pula mereka melakukanbombardemen dengan pesawat udara ke Matur, namun rakyat sekarang telah terlatih dan terbiasa bagaimana cara menyelamatkan diri dari mitraliur. Boleh dikata hampir setiap hari Matur mendapat serangan dari udara. Otomatis Matur harus menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Pasar tempat pedagang berjual beli sekitar Matur sekarang selalu berpindah-pindah, tidak lagi menetap di suatu tempat. Minggu sekarang pasarnya di daerah Surau Luar, minggu berikutnya pindah ke Labuang, demikian seterusnya pasar yang diramaikan tiap hari Kamis itu selalu berpindah-pindah dari parak yang satu keparak yang lain. Rakyat dapat mengikuti perkembangan ini dengan senang hati, tapi mereka tidak kuatir lagi akan serangan pasukan darat serdadu Belanda. Rakyat yakin pasukan republik Indonesia akan mampu menghadapi tiap serangan dari Belanda.
Selama Clash ke II atau Agresi ke II yang dimulai pada tanggal 18 Desember 1948 yang mana mulai pada saat itu para pemimpin yaitu Bung Karno, Bung Hatta, dan Inyiak Agus Salim dapat ditawan oleh belanda di Jogyakarta, sedangkan Syafruddin Prawiranegara, SH yang pada saat itu berada di Sumatera Barat langsung memimpin perjuangan rakyat dengan nama PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) yang berpusat secara berkeliling, terutama di daerah Koto Tinggi Suliki, Sulit Air, Sumpur Kudus. Juga Matur merupakan tempat berkumpul banyak pemimpin yang dicintai rakyat.
Matur yang merupakan puing-puing kebakaran selalu ramai dikunjungi oleh pemimpin bangsa Indonesia karena rakyatnya sungguh-sungguh dalam membaktikan dirinya pada Indonesia merdeka. Walaupun penghidupan boleh dikata makan nasi sekali sehari, dan bahkan ada yang makan nasi sekali tiga hari, namun bila kedatangan pemimpin mereka rela memberikan apa saja demi untuk keselamatan dan kesenangan pemimpin yang mereka cintai.
Selama Agresi ke II ini Matur hanya 3 (tiga) kali dapat dimasuki oleh Belanda, itupun mereka tidak berani bermalam. Tapi kedatangan mereka yang tiga kali itu telah menewaskan 5 pemuda harapan bangsa, sedangkan yang korban dalam tembakan houwitzer sebanyak 10 jiwa, dan tidak dapat dihitung pengorbanan harta benda, baik yang dirampas oleh serdadu Belanda maupun pengorbanan atas pembakaran rumah mereka.
Peringatan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1949 di lapangan hijau Matur, seluruh pasukan yang berada dibawah Sub Komando A telah mengadakan demonstrasi kekuatan senjata. Pada saat itulah rakyat dapat melihat betapa anggun dan agungnya pasukan Tentara Nasional Indonesia . Baru 4 tahun Indonesia merdeka, namun mereka telah punya perlengkapan senjata otomatis. Rakyat bangga akan kemampuan tentara mereka dan rakyat yakin paling lambat pada tahun 1950 ibu kota Sumatera Bukittinggi akan dapat direbut kembali dari NICA Belanda.
Rakyat yang tadinya merasa linglung ketika Bukittinggi dapat direbut oleh Belanda sekarang bagaikan sekuntum bunga yang layu dapat siraman air hujan. Mereka kembali mendapat kepercayaan, bahwa Indonesia merdeka itu bukanlah merupakan impian saja lagi, tapi sudah dapat dipastikan kemerdekaan itu pasti tiba. Coba saja bayangkan yang telah berkali memasuki Matur sekarang tidak punya kemampuan lagi, kendatipun para serdadu ini dikawal oleh dua pesawat mustang, namun mereka tidak sanggup lagi menerobos benteng pertahanan TNI.
Memang disana-sini pada jaman revolusi itu akan terjadi beberapa kekeliruan dan kesalahan hukum. Umpamanya, bila pesawat udara musuh sedang berada di udara, oleh seseorang yang rajin mencatat kedatangan tiap pesawt itu, pasti dihubungkan dengan melihat jam tangan, dengan mengangkat lengan sebatas siku. Nah, dengan mengangkat lengan sebatas siku ini dengan mudah dapat di intimidasi dengan meng-kode pesawat yang di udara. Maka berlakulah hukum revolusi. Dibunuh dengan belek atau pisau tumpul. Revolusi dan hukum dalam masa perang memang aneh. Juga bila ada orang yang secara tidak sengaja atau bertepatan waktunya memutar-mutarkan tongkatnya, sedang deru pesawat terbang terdengar pula, maka si pemutar tongkat ini disebut dan dihukum seperti spion musuh, dan bila tuduhan ini diperkuat pula dengan saksi-saksi, jangan diharap akan hidup lagi.
Perlu juga dicatat disini, disamping rakyat bangga dengan kekuatan senjata militer mereka, juga mereka bangga akan kemampuan mengacau pasukan musuh sampai-sampai ke jantung kota dan ke dalam barak-barak musuh, tiap malam sering terjadi bentrokan senjata dalam kota Bukittinggi. Demikian pula pada siang hari, pemuda Pado Api, putra daerah Lurah Taganang membawa oleh-oleh telinga dan telunjuk Belanda dan pada hari berikutnya ada pula yang membawa mata Belanda. Ini semua adalah hukum revolusi, kendatipun musuh itu sudah mait, toh masih di sakiti lagi dengan memotong bagian dari tubuh musuhnya dan potongan itu dibawa dan diberikan kepada seseorang sebagai kenangan, dan juga sebagai oleh-oleh dari kota.
Kebanggaan rakyat bukan hanya sekedar ucapan, tapi juga diiringi dengan perbuatan. Mereka dengan segala senang hati menjamu tentaranya, juga mereka dengan senang hati meberikan bantuan, baik berupa makanan maupun pakaian.
Demikianlah Matur dari masa ke masa selalu terkenal akan keramah-tamahannya, kendatipun kehidupan pribadinya selalu kekurangan, namun dalam perjuangan dalam menuju Indonesia merdeka mereka rela berkorban, bila saja, dan apa saja. Oleh sebab itu walaupun Matur dipenuhi dengan para pengungsi dari kota, tidak akan kita dengar ada orang mati kelaparan. Ini semua berkat adanya pengertian dari anggota masyarakat dan tingginya kesadaran mereka antara sesama manusia.
Perlu juga kita catat disini, bahwa sejak jaman pendudukan Jepang rakyat sudah terbiasa memakai baju goni atau baju kulit kayu yang disebut tarok. Demikian juga halnya pada jaman revolusi 1945 s/d 1949 rakyat sudah tidak asing lagi dengan dua jenis pakaian tadi, tapi mereka tidak merasa rendah diri, juga tidak melunturkan semangat juang mereka.
Matur telah memberikan apa yyng ada pada mereka, baik harta, benda, maupun darah putera mereka yang gugur sebagai kusuma bangsa. Indonesia telah merdeka, mereka sekarang menanti dengan penuh harap, apakah merdeka itu di iringi dengan kemakmuran dan kebahagiaan bagi seluruh bangsa Indonesia. Semoga sekali merdeka tetap merdeka.