Selasa, 12 Oktober 2010

Kereta Api dari Padang ke Pariaman

Ini gerbang stasiun Simpang Haru

simpang-haru-3



Ini kereta api wisata , berwarna-warni seperti marawa di ranah Minang:

dsc00236


Ini foto stasiun Pariaman:

dsc00235

Penumpang turun dari atas kereta menuju Pantai Gandoriah. Di gerbang pantai ini ada sebuah masjid besar tempat penumpang dan wisatawan menunaikan shalat Dhuhur dan Ashar. Agama Islam memang tidak bisa dipisahkan dari adat dan budaya Minang.

dsc00237

Sepanjang pantai banyak ibu-ibu yang berjualan jajanan khas Pariaman, sala lauak. Sala adalah gorengan yang terbuat dari adonan tepung beras dicampur kunyit, garam, dun seledri, cabe, dan ikan. Ikan yang cocok untuak sala adalah ikan tukai. Rasanya asin dan sedikit pedas. Enak dimakan selagi panas. Harganya Rp 250/buah. Bagi orang Pariaman, sala sering dijadikan lauk dan dimakan dengan nasi.

Ini foto sala lauak yang menggugah selera bagi siapa saja yang memandangnya.

dsc00246

Tentang sala lauak ini, ada lagu lama yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris Minang bernama Elly Kasim. Judul lagunya adalah Sala Lauak. Begini syairnya (dalam bahasa Minang tentu):

Sasaklah bana pasa rang Tarusan yo lah alai
bakaruang sumpik, yo alai di tangah balai (2x)

Lamaklah bana sala rang Piaman yo lah alai
badaun kunyik yo alai balauak tukai (2x)
salaaa lauak (2x)

Urang Cimparuah, pai ka Sintuak yo lah alai
naiak kureta yo alai di Kurai Taji (2x)

Kok lah tacubo sala rang Situngkuak yo lah alai
makan batambuah tasigi sapiriang lai (2x)
salaaa lauak (2x)

Selain sala juga dijual udang goreng, kepiting goreng, dan goreng ikan baledang. Ikan baledang adalah ikan yang panjang dan rasanya manis kalau digoreng dalam keadaan segar.

Ini foto goreng ikan baledang dengan tepung:

dsc00247


Tidak ada komentar:

Posting Komentar