Minggu, 24 Oktober 2010

(SUMBAR): Rancak Bana!


Kita orang sudah pernah aku ajak jalan-jalan keliling Sumatera toh? Nah, bagaimana kalau Kawan aku ajak keliling Sumatera Barat dalam blog kali ini biar lain waktu Kawan berkenan menabung gaji tiap bulan dan jatah cuti setahunnya untuk menjamah ranah Minang Kabau. Mau yah? Sudah mau sajalah…
Banyak akses menuju Sumbar dari Jakarta, bisa lewat kapal laut, bisa via bus AKAP yang markas besarnya di terminal Rawamangun sana. Kalau Kawan ke terminal itu lalu ke bagian loket antar kota antar provinsi, sejenak Kawan akan merasa seperti sedang di Padang, karena disana orang-orang banyak berbahasa Minang. Para calo tiket dan pembeli bertransaksi seolah mereka sedang di kampungnya saja.
Yang paling nyaman tentu saja terbang dengan pesawat. Sekarang banyak lho maskapai menawarkan tiket murah ke provinsi manapun termasuk ke Sumbar, namun soal
safety, ya ada harga ada mutu. Hahaha…
Di Kota Padang Kawan akan disambut oleh Bandara International Minang yang sederhana namun rapih dan cantik. Jalan-jalanlah dulu di kota ini dan coba singgah ke Restoran Tanpa Nama atau Martabak Kubang Hayuda. Martabak Kubang Hayuda di Ulak Karang ini adalah tempat hangout nya warga Padang apalagi kalau malam minggu restoran ini akan penuh dan sibuk. Sambil menunggu, Kawan dapat melihat aksi para koki menyiapkan martabak dan roti cane yang dilempar, berterbangan di langit-langit, lalu dibanting lagi diatas penggorengan.
Selama di Padang, selain ke pantai kota dan mencicipi sate padang, Kawan dapat juga mampir ke Teluk Bayur atau ke dua situs yang berkaitan dengan dua tokoh legenda Indonesia yang paling mahsyur, yakni Jembatan Siti Nurbaya dan kalau mau agak jauh sedikit, Patung Malin Kundang di Pantai Air Manis. Di Bukit dekat Jembatan itu dulu dimakamkan kedua sejoli, Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri yang romantika cintanya jauh lebih haru dan lebih tulus, dari roman Romeo Juliet. Kisah cinta yang jauh dari cium-ciuman, padahal belum muhrim, zina, apalagi divideokan, namun penuh dengan pengorbanan. Sedangkan di Pantai Air Manis Kawan akan segera menemukan bebatuan karang berserakan yang bila diperhatikan ternyata adalah sisa bangkai kapal laut pecah dan di tengah sana ada seonggok batu yang bila Kawan dekati, yak, itulah dia si anak durhaka Malin Kundang.
Sebelum Kawan sampai di Danau Singkarak, mampirlah di Nagari Kinari, sebuah desa yang masih tradisionil dimana sering dipentaskan tari-tarian adat dan pencak silat Minang yang belum lama ini dituangkan ke layar lebar lewat filem ‘Merantau’. Kemudian menepilah di danau terbesar kedua di Sumatera setelah Danau Toba dan santaplah panganan ikan bilih yang sedap dengan bareh Solok nan lamak (beras Solok yang ueeennnakk...!!). Ikan sepanjang jari kelingking ini, atau (Mystacoleucus padangensis) merupakan spesies ikan yang diperkirakan hanya hidup di danau ini.
Selain Danau Singkarak, ada lagi danau yang lebih indah kiranya, Danau Maninjau namanya. Bila datang dari Bukit Tinggi, maka untuk menuju danau ini Kawan harus melewati kelok ampek puluah ampek (44), Jalanan sepanjang bukit yang memiliki tikungan-tikungan tajam yang curam sebanyak 44 buah. Selama penurunan ini nikmatilah pemandangan Maninjau yang cantik dari ketinggian dan makin menurun, makin dekat dan lekat. Puas-puasin deh menikmati keindahan danau yang luar biasa ini, kalau perlu menginap di guest houses yang sederhana agar sempat kita berenang. Kawan juga bisa mampir ke rumah kami di Gasang. Danau Maninjau juga merupakan habitat makhluk air tawar sedap lainnya, seperti rinuak, pensi, dan yang khas dan langka, ikan bada. Ikan bada, seperti halnya ikan bilih di Singkarak, hanya seukuran jari tangan, nikmat, dan hanya ditemukan di Danau Maninjau.



Buat para petualang kuliner Indonesia, khusus Masakan Padang, Bukit Tinggilah jantung hatinya. Setelah mampir di
Ngarai Sianok, Benteng Fort de Kock, Lubang Japang (Lubang Jepang), Istana Bung Hatta, dan tentu saja Jam Gadang, silahkan bertempur di Nasi Kapau Uni Lis di Pasar Ateh, jangan lupa belanja cenderamata buat oleh-oleh, atau Katupek Etek Apuak di Pasar Lereng sambil menyeduh Teh Talua (Teh Telur). Dekat loket Panorama (sebuah taman untuk menikmati pemandang Ngarai Sianok di ketinggian Bukit Tinggi) ada yang disebut Pical Sikai dimana pical (pecel) dan lamang tapai dihidangkan. Di Ngarai Sianok sendiri, Kawan cobalah tes keperkasaan sambal Itiak Lado Ijo (Itik cabe hijau). Kalau buat makan malam yah cukup makan di salah satu Restoran Padang yang paling terkenal selainSederhana dan Pagi Sore, yaitu Simpang Raya. Bila ingin meninggalkan Bukit Tinggi jangan lupa beli Keripik Sanjai yah, buat oleh-oleh.









Sekarang pilihlah Kawan, berniat ke pantai di pesisir Sumatera Barat seperti Pantai Sikuai atau Carocok, atau menyeberang ke Pulau Cubadak, atau malah ke Pulau Mentawai? Atau jangan-jangan Kawan ingin ke Danau Ateh Danau Bawah, dua buah danau kembar yang terpisah satu kilometer saja. Ehm..ke Lembah Harau sajalah ya. Harau bersama-sama Sianok merupakan
ngarai, atau canyon, bahasa Melayu dalamnya. Lembah yang spektakuler ini juga menjabat sebagai salah satu wilayah konservasi alam dimana Bunga Raflesia juga tumbuh. Ada pula sebuah monumen peninggalan Belanda di kaki air terjun Sarasah Bunta yang indah dan asri, dimana tertera tanda tangan asisten residen Belanda di Lima Puluh Koto saat itu dan dua pejabat Indonesia, Tuanku Laras Datuk Kuning dan Datuk Kodoh yang membuka Lembah Harau sebagai taman wisata sejak 1926.
Balik ke Bukit Tinggi dan terus menuju Desa Pandai Sikek untuk melihat kerajinan tenun Minang yang cantik dan megah dimana seni menenun tradisional masih dipertahankan hingga hari ini. Yang wanita menenun, yang laki-laki mengukir kayu dan menghasilkan kerajinan ukir kayu yang luar biasa. Jangan melihat saja tapi yah, belilah juga. Sebelum meninggalkan Pandai Sikek, tak jauh dari situ jajanlah sebentar Bika Bakar Si Mariana yang sangat terkenal di Sumbar.


Selanjutnya kita menuju Istano Pagar Ruyuang, kediamannya raja-raja Minang zaman lawas. Di dalam Istana yang berupa Rumah Gadang besar ini, anda bisa lucu-lucuan berfoto dengan pakaian adat Minang bergaya selayaknya Anak Daro dan Marapulai (pengantin). Selanjutnya singgahlah Kawan di Sate Mak Syukur di Padang Panjang. Kawan akan belajar bagaimana menghabiskan kuah sate yang lezat menggiurkan tanpa menggunakan sendok. Dikokop? Bukan! Pokoknya datang saja dulu baru nanti tahu bagaimana caranya makan sate padang yang baik dan benar, sopan dan berseni.


Rute Bukit Tinggi - Padang dijamin bakal bikin Kawan berdecak kagum. Sungai deras berbatu di bawah, seribu kaki Bukit Barisan di atas dan tahu-tahu muncul jembatan rel kereta melintas di atas kepala,
nongol seenaknya dari balik hutan perbukitan itu. Beristirahatlah sebentar di Lembah Anai, sebuah air terjun yang cuek nangkring begitu saja di tepi jalan. Air segar yang terjun bebas bergemuruh akan membuat kita relaks sebentar sambil meregang-regangkan otot-otot yang kaku oleh jauhnya perjalanan. Oya, jangan lupa mencoba jajanan khas disini yaitu gorengan sala lauak yang lagi panas-panasnya. Benar-benar memanjakan lidah deh.
Sesampai di Padang, selesai pulalah perjalanan panjang menjamah gemulai indah Ranah Minang. Memang belum semua destinasi wisata di Sumatera Barat telah aku tulis tapi paling tidak perjalanan ini mewakili untuk menunjukkan bahwa tidak salah Kementerian kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia menjadikan Sumbar sebagai salah satu tujuan pariwisata utama nasional selain Bali, Jogja, dan Bunaken. Sekarang Kawan boleh sesumbar telah menahlukan objek-objek wisata se-Sumbar, walau hanya lewat blog. Hehehe…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar