Minggu, 24 Oktober 2010

Main Layang-layang


cimbacang-dan-palapeh-lalang

Kami bersama dengan teman-teman bergerak menuju lapangan bola kaki yang terletak di daerah Gantiang Gunuang Padangpanjang. Lapangan ini berhadapan langsung dengan RSU (Rumah Sakit Umum) Padang panjang biasanya setiap sore lapangan ini digunakan untuk latihan bola kaki. Akan tetapi pada Hari Minggu ini lapangan digunakan untuk pertandingan layang-layang. Pertandingan ini dimulai dari jam 10.00 pagi sampai dengan sore hari.

10

meja-panitia


Jarak lapangan bola kaki ini dari lokasi rumah Komunitas Sarueh berkisar kira-kira satu atau dua kilometer. Butuh satu jam perjalanan kalau seandainya kita berjalan kaki ke sana.

Balalang (bermain layang-layang) merupakan permainan anak nagari (anak daerah) yang dahulunya permainan layang-layang ini tidak hanya sebatas main dan menerbangkan layang-layang saja, tetapi ada ketentuan-ketentuan adat yang harus di patuhi dan telah disepakati secara bersama-sama seperti musyawarah menentukan siapa yang pantas ditunjuk menjadi juri dalam pertandingan layang-layang ini. Dulu, sebelum pertandingan biasanya diadakan pasambahan (persembahan). Tetapi sekarang kebiasaan tersebut sudah jarang sekali dipakai.

9

7

5

Pertandingan balalang ini merupakan tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai nagari (daerah). Mereka datang dengan membawa layang-layang yang telah dipersiapkan untuk mengikuti pertandingan tersebut. Setiap nagari memiliki nama layang-layangnya masing-masing, seperti Murai, Salempang, Salendang, Sarasah, Bondo. Ekor layang-lyang pun memiliki namanya sendiri, seperti Bagerai, Salinteh, Babek, Tana, Cancang Rapek, dan banyak lagi sesuai kebutuhan dan perubahan zaman.

Satu layang-layang di mainkan oleh palapeh lalang (orang yang mengendalikan layang-layang) tugas palapeh lalang ini menarik dan mengulur layang-layang, dan pastinya mengontrol layang-layang supaya bisa menang dalam pertandingan. Tapi dibalik itu semua tidak lepas pula peranan seorang cimbacang (orang yang membantu palapeh lalang). TugasCimbacang ini sebagai pemegang puntaran (tempat menggulung benang), Satu layang-layang tidak hanya memiliki satu cimbacang saja, tapi bisa beberapa orang.

Di sekitar lapangan didirikan tenda-tenda tempat minum kopi dan makanan ringan, yang disebut alun-alun. Di alun-alun ini kita bisa mendapatkan ketupat dengan gulai paku, goreng-gorengan dan segelas teh atau pun secangkir kopi. Alun-alun beratapkan terpal. Saya sempat ngobrol dengan salah seorang penjaga kedai yang sifat nya sementara ini.

3

2

1

Biasonyo kalau ndak manggaleh iko manga buk karajonyo?” (biasanya kalau tidak berdagang ini kerjaannya ngapain bu?), tanya saya. “Ya biasa kasawah,” (bertani) sahut ibu penjaga warung tersebut. “Biasanya pertandingan layang-layang ini di adakan kapan aja bu?” tanya saya lagi. “Biasa nyo tiok hari minggu ko yang rami” (biasanya yang rame setiap hari minggu), jawab ibu tersebut, “Biasanya kalau orang lagi ramai saya di bantu oleh suami dan juga anak-anak saya buat menghidangkan minuman atau makanan yang di pesan oleh orang-orang pacandu lalang.”

Pertandingan layang-layang ini berhadiahkan kambing, bintang emas, dan uang. Peserta membayar iset yang beragam tergantung dengan hadiah apa yang akan di perebutkan. Satu kali pertandingan biasanya 40 sampai 60 buah layang-layang yang di pertandingkan. Yang menentukan juara satu, dua dan tiga adalah pada juri, Sistim penilaian dilihat dari seberapa jauh, tinggi dan rapi susunan layang-layang tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar